Indonesia Tidak Dibangun oleh Aku, Tapi oleh Kita
Ada satu kata sederhana dalam bahasa Indonesia yang sering kita ucapkan tanpa banyak berpikir.
Kata itu adalah kita.
Empat huruf.
Pendek.
Sehari-hari.
Namun di dalam kata kecil itu, tersimpan sesuatu yang sangat besar: cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
“Kita” bukan sekadar kata ganti orang. Ia adalah cara manusia melihat dirinya di tengah manusia lain.
Ketika seseorang berkata aku, dunia terasa sempit. Ia berpusat pada dirinya sendiri.
Ketika seseorang berkata kami, dunia mulai melebar, tetapi masih ada garis pemisah. Masih ada batas antara kelompokku dan kelompokmu.
Namun ketika seseorang berkata kita, batas itu perlahan hilang.
“Kita” adalah pengakuan bahwa hidup manusia tidak pernah benar-benar sendiri.
Sebelum Ada Indonesia
Sering kali kita lupa bahwa Indonesia tidak selalu ada.
Seratus tahun yang lalu, orang-orang di Nusantara tidak bangun pagi dengan menyebut dirinya sebagai orang Indonesia.
Mereka bangun sebagai orang Jawa.
Sebagai orang Minangkabau.
Sebagai orang Bugis.
Sebagai orang Batak.
Sebagai orang Dayak.
Sebagai orang Ambon.
Identitas mereka terikat pada daerah, suku, dan komunitasnya masing-masing.
Tidak ada satu nama besar yang mempersatukan semuanya.
Bayangkan betapa beragamnya kepulauan ini.
Ribuan pulau.
Ratusan bahasa.
Puluhan budaya besar.
Jika setiap kelompok memilih berdiri sendiri, mungkin Nusantara hanya akan menjadi kumpulan wilayah kecil yang terpisah satu sama lain.
Namun sejarah memilih jalan yang berbeda.
Sebuah Keputusan yang Mengubah Sejarah
Pada tahun 1928, sekelompok pemuda dari berbagai daerah berkumpul dalam satu peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Bahasa mereka berbeda. Budaya mereka berbeda.
Tetapi di ruangan itu, mereka membuat sebuah keputusan yang sangat berani.
Mereka berkata:
Satu tanah air.
Satu bangsa.
Satu bahasa.
Kalimat itu tampak sederhana.
Namun sebenarnya ia adalah lompatan kesadaran yang luar biasa besar.
Para pemuda itu sedang melakukan sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah manusia: mereka memilih untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada identitas asal mereka.
Mereka berhenti berkata aku.
Mereka berhenti berkata kami.
Mereka mulai berkata kita.
Dan dari sanalah Indonesia perlahan lahir.
Bangsa yang Dibangun oleh Kebersamaan
Jika kita melihat perjalanan sejarah Indonesia, satu hal menjadi sangat jelas.
Bangsa ini tidak pernah dibangun oleh satu orang saja.
Ia juga tidak dibangun oleh satu kelompok saja.
Indonesia dibangun oleh banyak tangan.
Petani yang menanam padi.
Guru yang mengajar anak-anak di desa.
Nelayan yang mencari nafkah di laut.
Ulama yang menenangkan masyarakat.
Pemuda yang berani memperjuangkan kemerdekaan.
Mereka semua mungkin tidak pernah saling bertemu.
Namun mereka semua memiliki satu kesamaan: mereka menjadi bagian dari sebuah perjalanan bersama.
Itulah makna sebenarnya dari kata kita.
Keindahan Indonesia Ada pada Perbedaannya
Indonesia bukan bangsa yang lahir dari kesamaan.
Justru sebaliknya.
Bangsa ini lahir dari perbedaan yang memilih untuk hidup bersama.
Di negeri ini, kita bisa menemukan:
masjid berdiri tidak jauh dari gereja,
bahasa daerah yang berbeda di setiap wilayah,
tradisi yang berubah dari satu pulau ke pulau lain.
Jika dilihat dari jauh, keberagaman ini mungkin terlihat rumit.
Namun sebenarnya justru di situlah keindahannya.
Indonesia seperti taman yang penuh dengan bunga berbeda.
Bunga yang satu tidak perlu menjadi bunga yang lain.
Namun semuanya tumbuh di tanah yang sama.
Ancaman Ketika Kita Terlalu Sibuk dengan “Aku”
Ada masa ketika manusia mulai terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Kata aku menjadi semakin besar.
Orang mulai berkata:
ini kelompokku.
ini agamaku.
ini suku ku.
ini kepentinganku.
Tanpa disadari, garis-garis pemisah mulai muncul di mana-mana.
Padahal bangsa ini berdiri justru karena keberanian untuk menghapus garis itu.
Indonesia tidak pernah meminta kita menjadi sama.
Ia hanya meminta kita untuk tetap mengingat satu hal sederhana:
kita hidup bersama.
Kita dalam Kehidupan Sehari-hari
Persatuan tidak selalu muncul dalam peristiwa besar.
Sering kali ia justru terlihat dalam hal-hal kecil.
Ketika tetangga saling membantu.
Ketika masyarakat bekerja bersama membersihkan lingkungan.
Ketika orang saling menghormati perbedaan keyakinan.
Tradisi seperti Gotong Royong sebenarnya adalah contoh nyata dari kata kita dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengajarkan bahwa masalah bersama lebih ringan jika diselesaikan bersama.
Sebuah Renungan Sederhana
Coba bayangkan jika setiap orang mulai mengganti satu kata kecil dalam hidupnya.
Bukan lagi:
“Apa yang bisa saya dapatkan?”
Tetapi:
“Apa yang bisa kita bangun bersama?”
Mungkin perubahan itu terlihat kecil.
Namun dari perubahan kecil seperti itulah masyarakat yang kuat terbentuk.
Penutup
Indonesia terlalu besar untuk dibangun oleh satu orang.
Ia juga terlalu rapuh jika dijaga hanya oleh satu kelompok.
Bangsa ini hanya bisa berdiri selama masyarakatnya masih mengingat satu kata sederhana.
Bukan aku.
Bukan kami.
Tetapi kita.
Sebuah kata kecil yang mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, perjalanan bangsa ini selalu tentang berjalan bersama.

Post a Comment for "Indonesia Tidak Dibangun oleh Aku, Tapi oleh Kita"